Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Sesal

Gambar
Sesal Oleh : Akhwatul Chomsiyah Firdausa “Pergilah sejauh mungkin untuk mengejar cita-citamu, anakku. Yakinlah bahwa do’a ibu akan setia menyertaimu.” Hatiku menggerimis saat kalimat tersebut menggema di kepalaku. Dan kuyakin, hatinya pun menggerimis saat mengucapkan kalimat tersebut, meski ia berkata sungguh rela melepas kepergianku dan berusaha menegarkan diri di hadapanku.

Ikhlas

Sepasang mataku kubiarkan memandangi setiap sudut padang ilalang tempatku kini berpijak. Dandelion-dandelion yang tumbuh diantara ilalang sedang bermekaran. Sedikit saja tersenggol, bunga-bunganya yang serupa kapas beterbangan ke udara. Apalagi jika angin bertiup. Sungguh menakjubkan. Kupejamkan mataku erat-erat, mengingat masalalu indah bersamamu yang justru membuat hati tersayat saat mengingatnya.

Kemurnian Hati Murni

Pagi menyapa lagi, membiarkan malam berlalu tanpa bekas. Sementara sisa hujan semalam masih menyisakan noktah-noktah air, berupa embun yang membuat jalan setapak berumput yang biasa dilalui warga licin saat dipijak. Murni, salah seorang gadis di desa tersebut salah satunya. Pagi-pagi buta, tepat usai subuh, saat jalanan masih gelap, saat udara dingin masih terasa menusuk hingga sumsum tulang, Murni membawa obor dengan kemben (1) menyampir di pundak. Kedua kaki

What? Ternyata Dia...

Orin mengucek matanya. Rasa lelah dan kantuk yang menggelayuti harus ia singkirkan jauh-jauh. Hari ini ia ada rapat bersama teman-temannya yang tergabung dalam KPA (Komunitas Pecinta Alam) di sekolahnya, SMA Nusa Bangsa. Rapat untuk membahas kegiatan bakti sosial membantu korban banjir yang akan dilaksanakan minggu depan. Dan yang paling penting, hari ini ia bisa bertemu dengan Arwan, cowok yang selama ini ia taksir.

Selaksa Maaf dalam Senja (Majalah ReadZone Edisi 2/ Tahun I/ 2014/ Maret-April, halaman 7)

Gambar
Di atas gundukan tanah merah yang masih basah, airmataku mengalir tanpa henti. Bersaing dengan derasnya hujan yang sudah sejak sejam lalu aku berada di sini turun mengguyur bumi. Namun rasa-rasanya, airmataku jauh lebih deras dari air hujan yang sedang turun. Kepalaku   terasa hendak pecah. Potongan demi potongan masalalu itu terus berputar, menampilkan film tentang hidupku, tentang segala yang pernah kuperbuat. Namaku Narandra Syailendra. Biasa dipanggil Andra. Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang serba berkecukupan. Ibuku seorang dosen, dan Ayahku seorang TNI-AU. Sayangnya, saat usiaku dua tahun, Ayah harus pergi untuk selama-lamanya dalam sebuah kecelakaan.

Kado Terindah

Liburan telah tiba. Meski pun ini hari pertama libur, tapi aku bangun pagi-pagi, sebelum adzan subuh berkumandang, langsung membuka jendela kamarku yang terletak di ujung. Di luar, tentu saja karena masih pagi suasananya masih gelap, belum ada sinar matahari. Aku pun langsung   bergegas menyambar handuk dan mandi. Dinginnya air yang mengguyur tubuh tidak membuatku malas mandi, tapi justru semangat. Sebab pagi ini, Ayah dan Bunda berjanji untuk mengajakku berlibur ke rumah nenek. Semenjak lebaran dua tahun lalu, aku belum pernah lagi bertemu nenek. Selain karena jaraknya yang jauh, aku juga belum berani ke rumah nenek sendirian. Sedangkan Ayah dan Bunda yang biasanya menemaniku, dua tahun belakangan banyak disibukkan dengan pekerjaan. Sehingga mereka pun tidak memiliki waktu liburan. Maka setiap liburan semester, biasanya aku hanya menghabiskannya dengan menonton televisi dan bermain dengan teman-teman sekolahku.

Mata Untuk Ersa

Gambar
Senja masih sempurna miliknya, seperti tahun yang sudah-sudah. "Aila, aku kangen kamu," Ersa mendekap boneka beruang yang sudah kusut. Kedua matanya mengembun. Ia yang seperti biasa duduk di sebatang pohon mahoni besar yang bercabang mafhum mengayun-ayunkan kakinya. Di tempat ini, ia selalu mengenang kisahnya bersama Aila, sahabat masa kecilnya.

Kemerdekaan Mel (Cerdak Juli 2013)

Oleh : Akhwatul Chomsiyah Firdausa Matahari sedang terik-teriknya. Dengan tergesa Mel berjalan melintasi jalanan berdebu. Di sana sini sudah tampak pernak-pernik bernuansa merah putih. Seperti biasa, peringatan sakral tujuhbelasan memang selalu disambut antusias oleh warga, meski agustus masih lebih dari sebulan lagi.

Kamu Lebih Dari Cantik, Kawan (Cerdak Juni 2013)

Oleh : Akhwatul Chomsiyah Firdausa Silvi tergesa menaiki tangga menuju lantai empat gedung kampusnya. Tadi ia terburu-buru pergi dari Rumah Singgah yang ia kelola setahun belakangan, saat seorang adik asuhnya yang dekil datang menyodorkan selembar kertas lusuh.

Teman Baru

"Permisi, boleh aku duduk di sampingmu?" gadis berambut lurus sebahu itu tersenyum ke arah Evi yang sedari tadi hanya sibuk mengaduk-aduk es tehnya. Dari seragamnya yang juga mengenakan seragam putih merah setidaknya gadis yang baru saja menyapanya juga berstatus sebagai siswa baru di sekolah ini, sama seperti Evi

Kisah di Tepian Sungai Tenggulun (Hal 74, Story edisi 44)

Gambar
Kisah di Tepian Sungai Tenggulun Oleh : Akhwatul Chomsiyah Firdausa Senja mulai menjingga. Ayam-ayam piaraan warga sudah tak nampak berkeliaran. Semua kembali pulang ke kandang si empunya masing-masing. Keadaan itu sungguh sama sekali berbeda dengan seorang gadis bernama Salwa. Ia tak tahu kemana harus pulang. Rumah papan peninggalan orangtuanya yang empat tahun lalu masih kokoh berdiri kini telah menjadi puing-puing reruntuhan. Di sana-sini tumbuh tumbuhan liar, menjelma menjadi semak belukar.

Keliru Menduga - Cerdak Mei 2013. Uyeye, gagal lagii.. :)

Bruk . Marini menabrak tubuh seseorang. Buku-buku yang dibawanya sempurna berserakan di lantai. “Mmm.. maaf pak, maaf. Saya gak sengaja,” Marini berkata terbata. Akibat hari pertama MOS-nya telat ia dihukum mengantarkan buku-buku ke perpustakaan. Tadi kakak OSIS hanya memberinya waktu lima menit untuk kembali ke ruang kelas. Sungguh, hari ini kemalangan bertubi menimpanya. Dimulai dengan bangunnya yang kesiangan, tertinggal angkot saat hendak berangkat, dan sekarang harus bertabrakan dengan kepala sekolah. Maka, tanpa banyak kata Marini tergesa membereskan buku-buku tersebut, lalu bergegas menuju perpustakaan, berhitung dengan waktu yang terus berjalan.

The Miracle Of Love

Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh Lewati rintang, untuk aku anakmu Ibuku sayang, masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah Seorang bocah perempuan berusia belasan tahun menyanyikan sebuah lagu milik Iwan Fals dengan penuh penghayatan. Sementara, seorang gadis berjilbab biru muda dengan motif bunga-bunga tengah duduk di sudut sebuah kafe di bilangan Jakarta. Tatapan matanya nanar, memandang rintik hujan dari balik kaca kafe. Bocah tadi menghampiri sang gadis, sambil terus menyanyikan lagu berjudul “Ibu” tersebut. Tangan mungilnya menyodorkan bungkus permen ke hadapan sang gadis. Berharap ada sedikit rejeki yang dengan ikhlas disisihkannya.

Kartini dan Kartono (Cerdak April yang "toeng-toeng" lagi-lagi cuma berhasil masuk 10 besar, dan ujungnya gak lolos... )

Tini mendengus sebal. Baru saja ia mengetik naskah sebaris, hapenya kembali berdering. Dilihatnya nama Tono tertera di layar hapenya. Ingin rasanya ia mengacak-acak muka Tono yang selalu mengganggu hidupnya. Bagaimana tidak, cowok gemulai itu doyan sekali ngomong. Kerjaannya cerita ini itu. Sialnya lagi, Tini tidak bisa jauh dari Tono. Tini masih kerap membutuhkan kepintaran Tono untuk mengajarinya jika ada pelajaran yang susah.

AIR MATA CINTA

Gambar
Naskah ini pernah diikutkan lomba dan lolos pada Maret 2011 lalu. Namun berhubung PJ-nya entah ke mana, dan tidak ada kepastian atas kelanjutan naskah ini, maka dengan ini saya menarik naskah saya. Pihak mana pun tidak berhak untuk mempublikasikannya dalam bentuk apa pun tanpa ijin. “Livia, aku mohon maaf sekali, sepertinya hubungan kita tak mungkin berlanjut,” di ujung taman SMA Negeri 1 Tegal, yang terletak di jalan Menteri Supeno, tiba-tiba ucapan Pandu membuat gadis yang tengah duduk di sampingnya tersentak.

Kesempatan Itu Milik Semua (Cerdak Maret 2013, yang lagi-lagi gagal)

Gambar
Biar cuma masuk nominasi 10 besar, yang penting heppiiiiiiiii... Langit senja menyemburat jingga. Kupu-kupu nan cantik terbang rendah di atas kuntum bunga yang mulai bermekaran. Sementara di sudut taman Indri manyun sambil mengayun-ayunkan kaki. Saiful yang merupakan kakak Indri bête melihat kelakuan adiknya yang gaje gitu.

Menanti Pelangi Cinta, Cerdak Story November yang lagi-lagi gagal.

Gambar
Heru menatap hamparan danau yang membentang di hadapannya seraya memegang erat tangan Amanda seolah tidak mau lepas. Sesekali matanya beradu pandang dengan mata bening Amanda yang duduk di sebelahnya. Di saat-saat seperti ini, Heru merasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua.

Perjuangan Cinta, Cerdak Story Oktober 2012 yang Gagal (lagi)

Gambar
Siang ini matahari bersinar terik. Usai jam pelajaran, Rolan tidak langsung beranjak dari duduknya. Rolan kasak-kusuk gak karuan. Dia naksir berat sama Akhwa, tapi gak tau gimana cara deketinnya. Masalahnya Akhwa itu cuek banget orangnya. Tomboy pula.

Ada Kamu Di Hatiku, Cerdak Story September yang gagal

Gambar
Bian gundah gulana. Pasalnya Fani, gadis betawi yang dulu manis, baik hati dan tidak sombong, kini menjelma menjadi makhluk mengerikan yang sebentar-sebentar marah dan sebentar-sebentar manyun. Ferdinand sahabatnya menyarankan supaya Bian segera memutuskan Fani.

Kau Butakan Mata Hatiku

Gambar
Namaku Alifah. Biasa dipanggil Ifah. Umurku baru menginjak duapuluh satu tahun. Empat tahun lalu, aku pernah kuliah mengambil jurusan Ahli Filsafat dan Agama di sebuah Perguruan Tinggi swasta yang cukup ternama di Jakarta. Namun, hanya tiga semester aku di sana. Setelahnya, aku hanyalah onggokan sampah yang tidak berguna, hingga kini mungkin sebutan itu masih layak kusandang.