Postingan

Mata Untuk Ersa

Gambar
Senja masih sempurna miliknya, seperti tahun yang sudah-sudah. "Aila, aku kangen kamu," Ersa mendekap boneka beruang yang sudah kusut. Kedua matanya mengembun. Ia yang seperti biasa duduk di sebatang pohon mahoni besar yang bercabang mafhum mengayun-ayunkan kakinya. Di tempat ini, ia selalu mengenang kisahnya bersama Aila, sahabat masa kecilnya.

Inspirasi Itu, Tak Pernah Mengenal Batas

Gambar
Jarum jam sudah menunjuk pada pukul dua dini hari. Aku merasa puas, bahkan teramat puas karena mampu menyelesaikan tulisan hanya dalam beberapa jam saja. Tentu saja, itu bukan sekedar tulisan

20 Cerpen Pilihan yang Akan Dibukukan di Antologi Cerpen Pilihan Khusus Anggota JPIN Edisi Perdana

Rasanya seneng banget pas baca notifikasi facebook, ada namaku di sana... Thanks, God. Engkau selalu mempunyai cara untuk menunjukkan kekuasaan-Mu. 20 Cerpen Pilihan yang Akan Dibukukan di Antologi Cerpen Pilihan Khusus Anggota JPIN Edisi Perdana By Badiatul Muchlisin Asti II in Group Member Resmi JPIN (Files) · Edit Doc 1. Anak-anak Singkuang, Oleh: Tri Harun Syafii 2. Perempuan Berselendang Biru, Oleh: Budiyanti 3. Ikhtilam, Oleh: Kurniawan Al Isyhad 4. Tanpa Penghapus, Oleh: Asidia Akasa 5. Laki-Laki yang Tak Bisa Membenci, Oleh: Mulyoto M 6. Langit dan Awan, Oleh: Haerun Nisa 7. Kabut Singgalang di Mata Bening Ibu, Oleh: Widia Aslima 8. Kidung Ibu Di Tenggah Malam, Oleh: Irma Safitri 9. Siapapun Mama, Oleh: Pelangi (Sri Atin) 10. Lelaki Laut, Oleh: Titi Haryati Abbas 11. Merajut Rindu di Kursi Stasiun, Oleh: Nay Riskara 12. Kujemput Cinta-Mu, Oleh: Nenny Makmun 13. Nina di Kamar Kamboja, Oleh ; Diyar Oksana 1...

untitled (4)

Akhwatul Chomsiyah Firdausa on Facebook Malam beranjak melengang Jemariku masih saja terus melenggang di atas tuts keyboard Ingin kupuisikan malam Namun kosakata dalam kamusku seolah menguap Tak ada lagi katakata indah yang bermekaran

untitled (3)

Akhwatul Chomsiyah Firdausa on Facebook Tak seperti biasanya, langit Jakarta terasa lengang Apakah karena keriuhan itu tak lagi sanggup kukecap dengan inderaku? Atau, mungkinkah masih banyak penghuni Jakarta yang masih betah bertahan di kampung halaman? Ah, rasa-rasanya opsi pertama lebih mewakili jiwaku Di mana seluruh rasaku seolah beku Rasaku terasa meluruh Tak berasa Tak tercecap

untitled (2)

Akhwatul Chomsiyah Firdausa on Facebook Pun pada akhirnya waktu terhenti Mengakhiri segala episode kehidupan Tentang tawa, tentang luka, tentang bahagia dan airmata

untitled (1)

Akhwatul Chomsiyah Firdausa on Facebook Ruang imaji itu tanpa batas Seperti pula langkahku yang tak terbatas